Serangan siber berupa ransomware terus menjadi ancaman dengan dampak paling merusak bagi operasional bisnis dan instansi pemerintah pada 2026. Sejumlah temuan riset keamanan siber global menggarisbawahi pentingnya perubahan strategi pertahanan perusahaan, yakni bergeser dari sekadar merespons muatan enkripsi data menuju pemantauan perilaku penyerang di sepanjang rantai serangan (attack chain).
Badan Keamanan Siber Uni Eropa (ENISA) melalui laporan lanskap ancaman siber memaparkan bahwa ketergantungan digital yang kian erat memperluas permukaan serangan yang rentan disusupi. Mengacu pada telaah 4.875 insiden siber yang dihimpun pada periode 1 Juli 2024 hingga 30 Juni 2025, ransomware dinilai sebagai jenis ancaman yang memicu dampak paling besar, kendati serangan penolakan layanan (DDoS) mencatatkan frekuensi pelaporan tertinggi.
Peneliti Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Dr. Hegar Harini, mencatat bahwa titik masuk awal intrusi ransomware tidak semata-mata mengandalkan malware rumit. Berdasarkan data ENISA, sekitar 60 persen penyusupan awal bersumber dari phishing—termasuk vishing, malspam, dan malvertising—disusul eksploitasi kerentanan perangkat lunak sebesar 21,3 persen. Menurut Hegar, perusahaan kini harus beralih dari sekadar sosialisasi kewaspadaan umum ke implementasi kapabilitas deteksi ancaman dan respons insiden yang terpadu guna mengenali kejanggalan aktivitas jaringan secara langsung.
Kondisi tersebut diperkuat oleh laporan Microsoft Threat Intelligence pada 24 September 2026. Microsoft mengungkapkan bahwa mengidentifikasi serangan ransomware hanya dari jenis muatan atau varian enkripsinya kerap mengaburkan identitas kelompok afiliasi yang sesungguhnya menyusup ke dalam sistem. Sebagai contoh, aktor ancaman Storm-2570 yang dipantau sejak April 2025 tercatat beroperasi di beberapa ekosistem Ransomware as a Service (RaaS), mencakup varian Qilin, DragonForce, Anubis, hingga BERT.
Meski menggunakan muatan ransomware yang berganti-ganti, Storm-2570 menggunakan teknik operasional pasca-penyusupan yang seragam pada organisasi di sejumlah negara, termasuk sektor kesehatan, pendidikan, layanan keuangan, dan energi. Pola berulang tersebut mencakup pemanfaatan alat akses jarak jauh, pencurian kredensial, pergerakan lateral antarsistem, perusakan modul pertahanan keamanan, serta eksfiltrasi data ke penyimpanan awan sebelum perintah enkripsi dijalankan. Memantau jejak perilaku konsisten ini memungkinkan tim pertahanan siber memotong aktivitas peretasan sebelum data terkunci.
Di samping pola operasional aktor ancaman, laporan analisis IBM menunjukkan bahwa penyebaran ransomware makin terbantu oleh pemanfaatan kecerdasan buatan untuk rekayasa sosial. Penyerang siber kini memanfaatkan data digital guna menyusun pesan phishing yang sangat terarah, serta menyalahgunakan rekaman suara atau video rekayasa para eksekutif demi mengelabui pegawai agar membagikan akses kredensial sensitif.
Guna memitigasi risiko tersebut pada 2026, para pakar keamanan menyarankan organisasi untuk memperketat tata kelola, melakukan audit sistem berkala, memperbarui tambalan kerentanan, serta membangun sistem pemantauan yang mampu melacak pergerakan mencurigakan sejak tahap awal intrusi.
Sumber Referensi:
- https://www.enisa.europa.eu/publications/enisa-threat-landscape-2026
- https://www.microsoft.com/en-us/security/blog/2026/09/24/beyond-ransomware-tracking-storm-2570-consistent-tradecraft-across-deployments/?trk=article-ssr-frontend-pulse_little-text-block
- https://www.stabilitas.id/melampaui-awareness-strategi-deteksi-dan-respons-insiden-siber-di-era-digital/
- https://kabarsdgs.com/sustainability/2026/02/23617/ancaman-spyware-modern-uji-ketahanan-siber-indonesia/
- https://www.ibm.com/id-id/think/insights/the-current-state-of-ransomware-weaponizing-disclosure-rules
Sumber foto utama: Microsoft Security Blog