GIANYAR — Perhelatan sastra internasional Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) ke-23 dijadwalkan berlangsung pada 21 hingga 25 Oktober 2026 di Taman Baca Ubud, Jalan Raya Sanggingan, Kedewatan, Gianyar, Bali. Tahun ini, festival sastra tahunan tersebut memberikan panggung khusus bagi generasi baru dan suara perempuan lewat program Emerging Writers Programme, sekaligus menghubungkan karya-karya penulis lokal ke jejaring pembaca internasional.
Mengusung tema Samarasā: Awareness. Empathy. Action, festival ini berakar pada konsep filosofi Sanskerta yang menekankan keharmonisan antara cipta, rasa, dan karsa—atau pikiran, hati, dan tindakan. Rangkaian perhelatan ini mempertemukan lebih dari 150 penulis, jurnalis, seniman, serta pemikir dari Indonesia dan berbagai belahan dunia ke dalam lebih dari 100 program lintas disiplin.
Salah satu penulis muda Bali yang terpilih dalam Emerging Writers Programme adalah Nityasa Wijaya melalui karyanya bertajuk Perempuan Buah Langit. Karyanya yang menyoroti pengalaman dan pergulatan perempuan di tengah struktur masyarakat patriarkal terpilih masuk ke dalam antologi dwibahasa festival.
"Bagi saya, UWRF bukan hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan karya, tetapi juga tempat menemukan teman, membangun jejaring, dan berdiskusi dengan sesama penulis lintas generasi," tutur Nityasa dalam keterangan resminya di Sanur, Denpasar.
Nityasa menambahkan, publikasi karya dalam format dwibahasa memungkinkan narasi tentang isu keperempuanan yang ia bawa dapat menjangkau audiens internasional secara lebih luas, sekaligus menjadi wadah pertukaran pandangan dengan komunitas sastra lintas disiplin.
Pendiri Yayasan Mudra Swari Saraswati, I Ketut Suardana, menjelaskan bahwa gagasan Samarasā dirancang agar tidak sekadar berhenti pada tataran wacana filosofis. Gagasan tersebut mengarahkan bagaimana individu membangun relasi yang seimbang dengan diri sendiri, sesama manusia, alam sekitar, serta tindakan nyata sehari-hari.
Sementara itu, Pendiri sekaligus Direktur UWRF Janet DeNeefe mengenang bahwa festival ini memiliki akar historis mendalam yang berawal pascatragedi bom Bali sebagai sarana pemulihan trauma masyarakat. Memasuki usia penyelenggaraan ke-23, semangat tersebut terus dirawat untuk membuka ruang percakapan yang inklusif.
"Ubud Writers & Readers Festival lahir setelah tragedi bom Bali sebagai sebuah upaya untuk membantu masyarakat menyembuhkan diri dan perlahan melangkah maju," kata Janet. Melalui tema tahun ini, ia menegaskan festival berupaya merajut harmoni kesadaran dan empati dalam merespons berbagai dinamika kemanusiaan.
Sejumlah sastrawan dan tokoh terkemuka Bali dijadwalkan hadir meramaikan festival, antara lain Oka Rusmini, Prof. I Nyoman Darma Putra, Ni Nyoman Ayu Suciartini, Tan Lioe Ie, Kadek Sonia Piscayanti, dan Agung Wardana. Program festival juga menghadirkan sesi intensif Writers’ Retreat bersama Peter Godwin, program budaya Walking the Sacred Cycle oleh W. Mustika, sesi diskusi kecerdasan buatan oleh Marlowe Bandem, hingga penampilan musisi Baskara Putra.
Selain diskusi panel dan 49 peluncuran buku, perhelatan UWRF 2026 turut mencakup pameran seni bertajuk Samarasā di Restoran Indus yang dibuka sejak 11 hingga 26 Oktober 2026, memperkuat Ubud sebagai episentrum dialog kebudayaan dan literasi global.
Sumber Referensi:
- https://bali.antaranews.com/amp/berita/415024/ubud-writers-and-readers-festival-2026-beri-ruang-bagi-suara-perempuan-dan-penulis-muda-bali
- https://ubudwritersfestival.com/news/announcing-2026-festival-theme-samarasa-and-early-bird-tickets-on-sale
- https://www.detik.com/bali/berita/d-8704332/ubud-writers-readers-festival-2026-ajak-diri-selami-dunia-literasi
- https://magdalene.co/story/ubud-writers-and-readers-festival-2026/
- https://bsinews.id/ubud-writers-readers-festival-2026
Sumber foto utama: ANTARA News Bali