Pasar Semikonduktor Global Tertekan Kekhawatiran Pembiayaan AI dan Ekspansi Cip China

Pasar semikonduktor global melemah akibat kekhawatiran biaya pendanaan infrastruktur kecerdasan buatan dan lonjakan kompetisi memori dari produsen China CXMT.

Pasar semikonduktor global melemah akibat kekhawatiran biaya pendanaan infrastruktur kecerdasan buatan dan lonjakan kompetisi memori dari produsen China CXMT.
SINGAPURA — Saham produsen semikonduktor di bursa global mengalami tekanan jual yang cukup luas menyusul meningkatnya keraguan investor terhadap kesinambungan belanja modal kecerdasan buatan (AI) serta ketatnya persaingan dari produsen cip asal China.
Gelombang aksi jual di pasar Asia dipimpin oleh bursa Korea Selatan, di mana indeks Kospi merosot 6,25 persen. Saham dua produsen memori terkemuka dunia, Samsung Electronics dan SK Hynix, masing-masing terpangkas hingga 7,4 persen dan 10 persen. Tekanan serupa melanda bursa Jepang dengan indeks Nikkei yang turun 1,8 persen seiring pelemahan saham produsen peralatan cip Tokyo Electron sebesar 7,15 persen dan investor OpenAI, SoftBank Group, sebesar 8,5 persen. Sementara itu, bursa Taiwan terkoreksi hampir 2 persen bersamaan dengan penurunan nilai saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC).
Sentimen negatif tersebut berlanjut ke bursa Amerika Serikat. Indeks teknologi Nasdaq turun lebih dari 100 poin atau 0,35 persen ke level 30.556 pada pembukaan perdagangan. Saham Micron Technology melemah 4,8 persen, Advanced Micro Devices (AMD) turun 1,4 persen, Nvidia menyusut 0,8 persen, dan Broadcom terkoreksi 0,2 persen. Selain itu, iShares Semiconductor ETF (SOXX) mencatatkan penurunan selama lima sesi perdagangan berturut-turut.
Koreksi tajam ini dipicu oleh peringatan para eksekutif teknologi terkait risiko pendanaan infrastruktur AI yang masif dan ketergantungan pada instrumen utang. Berbicara di ajang DBS Asia Future Forward Conference di Singapura, Chief Executive Officer Broadcom Hock Tan menyamakan spekulasi sejumlah pemodal AI dengan perilaku di kasino serta mengingatkan bahwa akses permodalan kini dapat menjadi hambatan yang lebih besar dibandingkan ketersediaan pasokan cip maupun pasokan listrik.
"Jika ada tantangan di depan, itu adalah modal dan biaya permodalan, dan bagian lainnya adalah dalam jangka panjang, orang ingin melihat tingkat pengembalian investasi (ROI)," kata Hock Tan sebagaimana dilaporkan CNBC.
Pandangan tersebut turut diamini oleh CEO Intel Lip-Bu Tan, yang menyoroti kenaikan biaya pinjaman serta ketidakpastian pengembalian investasi dari proyek raksasa pusat data AI. Keraguan pasar kian tebal setelah Broadcom, kendati membukukan penjualan kuartal keempat sebesar 19,1 miliar dolar AS dan mengantongi backlog pesanan produk AI senilai 73 miliar dolar AS untuk enam kuartal ke depan, menolak memberikan proyeksi pendapatan spesifik untuk tahun 2026.
Di sisi lain, tekanan pasar diperberat oleh ancaman disrupsi teknologi dari produsen asal China, ChangXin Memory Technologies (CXMT). Perusahaan pembuat cip DRAM yang baru melantai di bursa Shanghai pada akhir Juli lalu tersebut mengumumkan kemajuan pengembangan struktur sel memori 4F2 generasi terbaru untuk mendongkrak kepadatan penyimpanan data.
CXMT berencana merilis produk memori server berbasis arsitektur baru ini pada akhir 2026. Langkah tersebut mengancam dominasi raksasa memori mapan seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology dalam memasok komponen DRAM yang krusial untuk menunjang komputasi cip pemrosesan AI tingkat lanjut.
Sumber foto utama: the Guardian




