Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang kian masif di berbagai sektor memunculkan konsekuensi signifikan pada infrastruktur fisik penopangnya. Di balik efisiensi chatbot, mesin pencari pintar, dan otomasi digital, kebutuhan suplai listrik untuk mengoperasikan pusat data (data center) melonjak tajam dan menjadi tantangan besar bagi sistem kelistrikan.
Pusat data berfungsi sebagai tumpuan pemrosesan komputasi dan penyimpanan model skala besar yang membutuhkan pasokan daya stabil secara berkesinambungan. Di Indonesia, lonjakan beban daya tersebut terjadi di tengah agenda ganda pemerintah yang berupaya menarik investasi infrastruktur teknologi digital sekaligus mendorong transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE) 2060 melalui pemanfaatan energi baru terbarukan.
Industry Principal of Power and Utilities Aveva, Ann Moore, menjelaskan bahwa perpaduan antara ekspansi pusat data dan target dekarbonisasi membuat pengelolaan sistem kelistrikan jauh lebih kompleks dibanding masa-masa sebelumnya.
"AI dan data center akan terus datang karena mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Tantangannya sekarang adalah bagaimana memastikan sistem kelistrikan siap mendukung pertumbuhan itu," kata Moore.
Ia menilai Indonesia memiliki potensi modal yang kuat untuk menjadi basis ekosistem AI berkat kekayaan sumber energi bersih seperti panas bumi, tenaga air, hingga tenaga surya. Kendati demikian, kendala utama tidak lagi bertumpu pada ketersediaan potensi energi, melainkan pada integrasi operasional agar jaringan listrik tetap stabil menghadapi fluktuasi produksi energi terbarukan.
"Ketika tenaga surya menghasilkan listrik, kita harus memanfaatkannya. Ketika produksinya turun, sumber energi lain harus langsung mengambil alih. Jadi, semua aset yang ada kini harus dioptimalkan dengan baik," tutur Moore.
Moore menambahkan, sekadar membangun pembangkit listrik baru tidak lagi memadai untuk mengejar pertumbuhan beban AI yang begitu pesat. Pembangunan pembangkit maupun bentangan transmisi transmisi baru memerlukan modal besar serta waktu pengerjaan bertahun-tahun, sementara pertumbuhan komputasi terus melaju dalam tempo singkat.
Tingginya aktivitas komputasi ini juga terkonfirmasi dari beban lalu lintas data di internet. Berdasarkan kajian Monash Data & Democracy Research Hub dan PR2Media, aktivitas bot pengambil data (scraping) untuk melatih model bahasa besar (LLM) turut meningkatkan beban operasional server penyedia konten secara signifikan, mengindikasikan betapa intensifnya konsumsi sumber daya di seluruh mata rantai teknologi AI saat ini.
Sumber Referensi:
- https://www.hukumonline.com/berita/a/beban-ganda-media-di-balik-pesatnya-perkembangan-ai-lt6a5e1c219b99a/
- https://diskominfo.kaltimprov.go.id/berita/pesatnya-perkembangan-ai-dorong-penguatan-keamanan-dan-privasi-data
- https://www.kompas.id/artikel/bagaimana-kecerdasan-buatan-mengubah-peta-tenaga-kerja
- https://tekno.kompas.com/read/2026/07/14/14020017/perkembangan-ai-makin-pesat-di-indonesia-pengelolaan-listrik-jadi-tantangan
- https://indodax.com/academy/sam-altman-openai-chatgpt/
Sumber foto utama: KOMPAS.com