Kritik Karhutla Melalui Seni: Kontras Busana Adat dan Masker di Lahan Hangus

Seniman di Sumatera menyuarakan kritik atas bencana kabut asap karhutla melalui karya visual perpaduan busana adat dan masker di lahan hangus.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan memicu aksi perlawanan simbolis dari kalangan seniman. Alih-alih menyuarakan aspirasi lewat orasi di jalanan, seniman asal Jambi dan Palembang memilih menjadikan lahan gambut yang hangus terbakar sebagai panggung ekspresi visual untuk menuntut pemulihan hak atas udara bersih.
Karya seni fotografi dan pertunjukan tersebut menampilkan perempuan mengenakan busana adat tradisional yang kontras dengan lanskap hutan yang telah menjadi arang. Sosok-sosok dalam karya visual itu tampak mengenakan masker medis hingga masker gas respirator, menyiratkan ancaman langsung polusi asap terhadap kelangsungan hidup warga dan kelestarian ekosistem.
Seniman sekaligus pendiri Jambi Cultural Fest, Selingkung Bumi, dan Kurikulum Bahagia, Ichalago Chaniago, menginisiasi karya visual ini dengan memadukan keanggunan busana adat Melayu Jambi berwarna oranye, merah, dan hitam-emas di tengah kepulan sisa asap kebakaran. Salah satu potret bahkan memperlihatkan figur perempuan berbusana adat yang menggendong satwa monyet Sumatera, simbol satwa liar yang kehilangan habitat aslinya akibat kobaran api.
Melalui keterangannya, Ichalago menegaskan bahwa karya tersebut merupakan bentuk representasi jeritan masyarakat lokal yang terdampak langsung oleh penurunan kualitas udara secara ekstrem.
"Kami di Jambi sedang meringkih pilu karena asap yang menyelimuti langit. Setiap pagi, mata perih, tenggorokan sakit, dan anak-anak sulit bernapas. Sekolah diliburkan, aktivitas terhenti, ekonomi keluarga pun terpuruk. Kami bukan meminta kemewahan, kami hanya ingin udara segar. Kami berhak mendapatkan udara bersih, hak yang seharusnya dijamin negara," tulis Ichalago dalam pernyataannya.
Selain foto perempuan berbusana adat, Ichalago menampilkan simbolisme lain melalui rekaman visual pria berselubung plastik transparan yang menggambarkan kondisi masyarakat yang mengalami sesak napas. Dalam seruannya, ia mendesak penghentian praktik pembakaran, penegakan hukum yang tegas, pemulihan kawasan gambut, dan perlindungan nyata bagi warga terdampak.
Langkah serupa juga disuarakan oleh para kreator di Palembang, Sumatera Selatan, melalui inisiatif pameran lukisan dan fotografi bertajuk Jaga Api Art Exhibition. Ruang pameran tersebut dimanfaatkan untuk memperlihatkan realitas krisis ekologis yang meluas melampaui statistik titik api, yakni mencakup krisis kesehatan masyarakat dan kerusakan ruang hidup generasi mendatang.
Pendekatan seni visual ini berhasil menarik perhatian publik luas di media sosial. Penjajaran simbol budaya luhur dengan alam yang rusak menjadi alarm keras bahwa identitas kedaerahan tidak dapat dipisahkan dari kelestarian tanah dan lingkungan tempat masyarakat bernaung.
Sumber Referensi:
- https://www.cantika.com/read/2121478/potret-karhutla-dalam-seni-ketika-baju-adat-dan-masker-di-tengah-asap-pekat
- https://sumutpos.jawapos.com/unik/2610130020/seniman-jambi-dan-palembang-kritik-karhutla-lewat-karya-seni
- https://informasi.com/nasional/infrms-28697/saat-hutan-membara-busana-adat-justru-menjadi-alarm-untuk-penguasa
- https://radarpurworejo.jawapos.com/amp/news/2610120003/seni-jadi-suara-kritik-karhutla-busana-adat-dan-masker-di-tengah-hutan-hangus
- https://mongabay.co.id/2026/09/04/karhutla-di-jawa-timurdan-buruknya-tata-kelola-hutan/
Sumber foto utama: Cantikadotcom

