Bertaruh Napas demi Nafkah: Jeritan Pelaku UMKM Palangka Raya di Tengah Kepungan Asap Karhutla

Pelaku UMKM di Palangka Raya terpaksa bertahan berjualan di tengah kabut asap karhutla pekat demi menopang kebutuhan keluarga meski omzet anjlok hingga 80 persen.
Pedagang kecil dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dihadapkan pada dilema berat antara menjaga kesehatan paru-paru atau menyambung kelangsungan dapur keluarga. Pekatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti kota selama berbulan-bulan memukul perputaran ekonomi sektor informal secara drastis.
Hadi Anwar (34), salah seorang pedagang es tebu di Jalan Bukit Keminting, Palangka Raya, merasakan langsung pukulan ekonomi tersebut. Ia mencatat penurunan penjualan hingga 80 persen dalam tiga hari terakhir. Stok tebu seberat 100 kilogram yang biasanya habis terjual dalam tempo dua hari, kini memakan waktu hingga satu pekan untuk tandas.
“Sangat terdampak sekali. Selama kabut ini menurun drastis. Biasanya 100 kilo untuk dua hari, sekarang bisa sampai seminggu baru habis,” tutur Hadi pada Rabu (14/10/2026).
Hadi mengaku sadar betul akan bahaya menghirup udara yang tercemar. Namun, ketiadaan bantalan cadangan membuatnya tidak memiliki alternatif selain tetap berjualan di tepi jalan. Dari gerobak es tebu itulah ia menanggung nafkah sang istri, seorang anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK), adiknya, hingga sang ibu mertua. Beban pengeluaran kian berat karena ia harus melunasi cicilan kredit rumah setiap bulan, sementara usaha batagor yang dijalankan adiknya turut mengalami kelesuan serupa akibat sepinya pembeli.
Kondisi keterpaksaan ini dirasakan merata oleh para pedagang luar ruang di Palangka Raya. Berdasarkan pantauan di lapangan, kabut asap pekat telah mengepung kota selama lebih dari tiga bulan hingga menekan jarak pandang hingga di bawah 100 meter dengan indikator kualitas udara yang masuk kategori berbahaya.
Masyarakat perkotaan cenderung membatasi diri untuk keluar rumah, yang secara otomatis memutus rantai pembeli bagi pedagang kaki lima. Meski ancaman infeksi saluran pernapasan mengintai, para pelaku usaha kecil bertahan di jalanan karena ketiadaan pendapatan harian berarti hilangnya jaminan makan bagi anggota keluarga di rumah.
Di sisi operasional penanggulangan, jajaran Pemerintah Kota Palangka Raya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, bersama unsur TNI dan Polri terus berupaya memadamkan kobaran api. Kendati demikian, bentang wilayah yang luas serta karakteristik tanah gambut yang terbakar di bawah permukaan menjadi kendala utama dalam menjinakkan karhutla secara cepat.
Melihat kondisi krisis yang berkepanjangan, intervensi jaring pengaman sosial menjadi kebutuhan mendesak bagi kelompok rentan seperti pedagang kecil. Hadi dan sesama pelaku usaha berharap ada langkah konkret berupa penyaluran bantuan kebutuhan pokok (sembako) dari pemerintah guna menyangga beban hidup harian selama aktivitas ekonomi lumpuh tertutup asap.
“Harapannya untuk pemerintah ada bantuan untuk UMKM berupa sembako, karena UMKM ini sangat terdampak sekali dengan kondisi kabut asap ini. Semoga cepat turun hujan,” pungkas Hadi.
Sumber Referensi:
- https://prokalteng.jawapos.com/propolek/ekobis/14/10/2026/diterpa-kabut-asap-karhutla-umkm-di-palangka-raya-menjerit/
- https://www.metrotvnews.com/play/NrWCgxez-asap-karhutla-pekat-pedagang-di-palangka-raya-tetap-berjualan-demi-kebutuhan-hidup
- https://makassar.kompas.com/read/2026/10/13/135733678/imbas-asap-karhutla-7-penerbangan-di-bandara-sultan-hasanuddin-dibatalkan
- https://www.suarakalbar.co.id/2026/08/kabut-asap-berpotensi-tekan-aktivitas-ekonomi-umkm-di-kubu-raya/
Sumber foto utama: Prokalteng

