Keroncong Tetap Bernyawa di Ruang Publik dan Dekat dengan Generasi Muda

Musik keroncong terus mempertahankan eksistensinya dengan merambah ruang publik dan memadukan aransemen modern agar tetap relevan di kalangan generasi muda.
SANGWARTA — Musik keroncong terus membuktikan daya tahannya di tengah arus deras budaya populer. Kesenian tradisional ini tidak lagi semata terpaku pada panggung formal atau ruang konser tertutup, melainkan aktif hadir di berbagai ruang publik seperti terminal transportasi dan ruang kreatif komunitas demi mendekatkan diri kepada generasi muda.
Di Terminal Ledeng, Bandung, alunan musik keroncong dihadirkan melalui penampilan Keroncong Lapis Legit, unit minat dan bakat dari Himpunan Pendidikan Seni Musik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dalam gelaran festival “LEDENG.LEDENG.LEDENG”. Pelaksana program festival, Dava Sanjaya, mengungkapkan bahwa pemilihan ruang publik terbuka bertujuan mendobrak anggapan bahwa pertunjukan seni harus selalu bersifat formal.
“Gak harus semua (seni) itu dibuat formal. Kayak misalnya kalau kalian mau seni musik harus ke konser. Atau misalnya pameran harus di White Cube. Tapi bisa juga di sini. Jadi mengenalkan kalau seni tuh bagian dari keseharian kita,” kata Dava.
Fenomena serupa berlangsung di Jawa Tengah. Di Terminal Tingkir, Salatiga, lahir kelompok keroncong modern bernama Sawoeng Sworo Solotigo pada Mei 2024. Berawal dari niat menghibur penumpang di ruang tunggu bus antarkota antarprovinsi (AKAP), grup yang dipimpin Agus Taufik ini mengawinkan instrumen khas keroncong seperti cak, cuk, cello, dan biola dengan drum serta kibor. Sajian repertoarnya pun fleksibel membawakan lagu pop, campursari, hingga dangdut.
Eksplorasi dan adaptasi musikal sejatinya merupakan bagian dari perjalanan panjang keroncong di Indonesia. Sebagaimana jejak maestro Bram Aceh (Abraham Titaley) pada era 1980-an yang memadukan keroncong dengan instrumen bernuansa Hawaiian melalui kelompok Anggrek Nusantara, inovasi menjadi kunci agar genre musik ini tidak terhenti pada romantisme masa lalu.
Pentingnya pembaruan penyajian keroncong juga ditegaskan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta. Saat menghadiri Pentas Keroncong Jamming #5 yang diadakan Asosiasi Keroncong Djokjakarta (AKDjok) di Jawir Space, Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan menyatakan pelestarian keroncong memerlukan sentuhan kreatif.
“Musik keroncong jangan hanya menjadi warisan budaya yang dikenang, tetapi harus tetap hidup, dimainkan, dan berkembang mengikuti zaman. Dengan kreativitas para pelaku seni, saya yakin keroncong akan terus eksis,” ujar Wawan.
Meski demikian, tantangan pelestarian musik keroncong di ruang publik tetap mengemuka, salah satunya terkait regulasi. Hal ini tampak pada dinamika di Stasiun Solo Balapan, di mana pemutaran lagu legendaris Bengawan Solo karya Gesang sempat dihentikan sementara oleh pihak pengelola demi kehati-hatian menghadapi isu royalti musik di ranah publik.
Melalui inisiatif pertunjukan di ruang terbuka, kolaborasi lintas genre, dan adaptasi aransemen, musik keroncong terus membangun jembatan kultural yang mempertemukan warisan tradisi dengan dinamika kehidupan masyarakat urban modern.
Sumber Referensi:
- BandungBergerak.id - Seni Turun ke Terminal Ledeng | BandungBergerak.id, Bercerita ...
- RASIKA105.6 FM - Lahir dari Terminal Tingkir, Kelompok Keroncong Modern Sawoeng Sworo Solotigo, Kini Makin Eksis
- KOMPASIANA - Bram Aceh: Suara Keroncong, Jejak Identitas, dan Arsip Emosional Bangsa
- Lagu Bengawan Solo Tak Terdengar Lagi di Stasiun Solo Balapan, Ini Alasannya - Suara Merdeka Banyumas - Lagu Bengawan Solo Tak Terdengar Lagi di Stasiun Solo Balapan, Ini Alasannya - Suara Merdeka Banyumas
- Pemerintah Kota Yogyakarta - Portal Berita Pemerintah Kota Yogyakarta : Musik Keroncong Dikemas Lebih Kreatif Agar Dicintai Lintas Generasi
Sumber foto utama: RASIKA105.6 FM

