Di zaman sekarang, sesuatu yang bersifat ibadah atau hal-hal tentang ketaatan kepada tuhan dianggap sepele oleh masyarakat, khususnya kaum muda. Orang yang melakukan kemaksiatan secara terang-terangan justru dianggap keren dan patut untuk dicontoh, sedangkan orang yang giat dalam ketaatan kepada tuhan dicap sebagai orang-orang kuno.
Nasihat-nasihat kebaikan yang berasal dari perkataan ulama’ tidak terlalu digubris, mereka lebih memilih mengikuti kata-kata influencer atau artis yang tidak jelas keilmuannya. Orang-orang penuh sensasi yang bergaya hidup liar dan bebas justru lebih terkenal dan banyak dicontoh oleh kaum muda daripada seorang ustadz yang faham ilmu agama.
Hal ini merupakan dampak dari arus modernisasi yang membuat masyarakat meniru gaya hidup orang barat. Kehidupan yang bebas dari aturan-aturan keagamaan inilah yang kemudian menjadi tren pemuda masa kini. Imbasnya, orang-orang saat ini menganggap perbuatan seperti minum-minuman keras, berjudi, dan pergaulan bebas seakan menjadi dosa yang bisa dimaklumi.
Kemudian orang-orang yang tidak mengikuti kebiasaan tersebut dianggap ketinggalan zaman atau tidak keren. Hal ini sangat bertolakbelakang dengan nilai-nilai Islam dan moral bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi aspek ketuhanan seperti yang tertuang dalam sila pertama Pancasila.
Kebiasaan seperti ini seakan menggiring masyarakat pelan-pelan kembali ke masa jahiliyah dimana hukum tuhan dianggap tidak penting. Agama hanya digunakan sebagai formalitas tanda pengenal saja tanpa melaksanakan kewajibannya sebagai hamba tuhan.
Kebiasaan ini kemudian mengubah pola pikir masyarakat dimana orang yang melakukan kewajibannya sebagai hamba dianggap sebagai suatu hal yang tidak umum atau menganggapnya spesial. Hal ini bisa terjadi karena dengan semakin berkembangnya zaman, orang-orang mulai asing dengan ajaran agama. Orang-orang berbondong-bondong menyuarakan kebebasan tanpa memperdulikan moral dan etika yang diajarkan oleh agama.
Salah satu fenomena yang terjadi saat ini adalah pola pikir masyarakat tentang kewajiban sholat. Masyarakat sekarang menganggap bahwa orang-orang yang rajin melaksanakan sholat lima waktu dicap sebagai orang sholeh. Padahal, seharusnya hal tersebut adalah rutinitas yang wajib dilakukan oleh setiap muslim.
Mengapa mereka bisa menganggap rutinitas yang seharusnya normal dilakukan oleh setiap muslim menjadi suatu hal spesial. Apakah mereka tidak sadar akan wajibnya sholat, atau memang ajaran agama sudah menjadi se asing ini di mata masyarakat.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an :
اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ
Artinya : Sungguh, aku ini Allah, tidak ada tuhan selain aku, maka sembahlah aku dan laksanakanlah sholat untuk mengingat aku. (Q.S. Thaha : 14)
Ayat tersebut menerangkan tentang nilai ketauhidan untuk meyakinkan bahwa Allah adalah tuhan yang harus disembah. Ayat ini juga merupakan penekanan bagi manusia agar melaksanakan sholat. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah sholat memiliki keutamaan lebih tinggi daripada ibadah-ibadah lainnya seperti zakat, puasa, haji dan sebagainya.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi setiap muslim agar melaksanakan shalat sebagai bentuk ketaatan seorang hamba kepada tuhannya. Sholat adalah kebiasaan yang seharusnya umum dilakukan oleh setiap muslim bukan dianggap sebagai tanda kesalehan seseorang.
Banyak sekali keutamaan dalam melaksanakan sholat, salah satunya adalah menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar. Allah berfirman dalam Al-Qur'an
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Artinya : Bacalah kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan melaksanakan sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (sholat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S Al-Ankabut : 45)
Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar karena disaat kita melaksanakannya dengan penuh rasa ketaatan kepada tuhan maka hal itu akan menumbuhkan kesadaran untuk meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Dengan kembali menjalankan sholat sebagai rutinitas, hal itu akan menumbuhkan rasa untuk kembali ke jalan kebaikan dan meninggalkan hal-hal tercela seperti mabuk, berjudi, dan pergaulan bebas.
Ancaman bagi orang-orang yang meninggalkan sholat secara sengaja juga bukan hal yang bisa dianggap sepele. Dalam Al-Qur'an juga dijelaskan :
مَا سَلَكَكُمْ فِيْ سَقَرَ قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَۙ
Artinya : “Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam (neraka) saqar, mereka menjawab, “dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan sholat”. (Q.S. Al-Mudatsir : 42-43)
Ayat tersebut merupakan jawaban para pendurhaka atas pertanyaan ahli surga tentang sebab mereka bisa masuk ke neraka saqar. Dengan memahami keutamaan dan ancaman bagi orang yang meninggalkan sholat, maka kita harus kembali sadar bahwa betapa pentingnya melaksanakan kewajiban tersebut.
Kesimpulannya, sudah sepatutnya bagi generasi muslim untuk menormalisasi sholat sebagai bentuk kewajiban yang harus dilaksanakan. Sebaliknya, segala bentuk kemaksiatan yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang jauh dari agama harus kita hindari, lebih-lebih kita bisa menyadarkan mereka agar kembali ke jalan yang benar.
Islam adalah agama yang memudahkan dan menuntut kepada kebaikan. Sebuah pedoman yang mengarah kepada hakikat kebenaran agar manusia tidak jatuh ke lembah kesesatan.
Manusia adalah makhluk yang diberi keistimewaan untuk dapat berpikir. Tetapi dengan keistimewaan itu bukan berarti manusia bebas untuk berekspresi sesuai dengan kehendaknya sendiri. Oleh karena itu, syariat Islam datang sebagai petunjuk agar manusia tidak melampaui batas.