Ibadah shalat memegang kedudukan mendasar dalam hukum Islam sekaligus menjadi pembeda utama antara identitas seorang muslim dengan kekufuran. Pertanyaan mengenai status keislaman seseorang yang meyakini keberadaan Allah namun mengabaikan shalat kerap muncul dalam ruang diskursus publik, termasuk di media sosial.
Landasan hukum mengenai batasan tersebut bersumber dari sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Berdasarkan riwayat dari Jabir radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (Nomor 82), Rasulullah menegaskan bahwa batas pemisah antara seorang hamba dengan syirik dan kufur adalah meninggalkan shalat.
Hadis tersebut menjadi pijakan normatif bahwa pengakuan iman harus selaras dengan pengamalan peribadatan secara syariat. Kepercayaan terhadap keberadaan Tuhan semata tanpa diiringi pelaksanaan shalat dinilai tidak memenuhi pembuktian keislaman secara hukum syariat. Shalat diposisikan sebagai tiang dan fondasi agama yang menandai ketundukan seorang hamba.
Terkait kondisi seseorang yang masih bergulat dengan perbuatan tercela, ulama KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menekankan pentingnya mempertahankan shalat sebagai bukti penghambaan. Dalam nasihatnya, ia menyampaikan agar seorang hamba tetap mendirikan shalat meski masih kerap bermaksiat, sebab ibadah tersebut merupakan tanda bahwa seseorang masih mengakui dirinya menghamba kepada Allah.
Pandangan serupa juga diperkuat melalui pemahaman bahwa shalat merupakan instrumen perbaikan diri yang tidak boleh ditunda hingga seseorang merasa telah suci dari kesalahan. Dengan mendirikan shalat secara konsisten, seorang muslim menjalankan rukun fundamental yang mengukuhkan status keimanannya di hadapan hukum syariat.
Sumber Referensi:
- https://www.kompasiana.com/ahmadfarros0695/657fbf37de948f559b48b0c2/perbedaan-antara-seorang-muslim-dan-seorang-kafir-adalah-sholat
- https://islam.nu.or.id/syariah/hukum-senang-atas-wafatnya-muslim-lain-karena-perbedaan-mazhab-bolehkah-CYmaF
- https://lampung.baznas.go.id/artikel/show/muzaki-kriteria-orang-wajib-berzakat/38575
- https://uin-alauddin.ac.id/tulisan/detail/karakter-moderasi-rasulullah-saw--kunci-toleransi-dalam-menghadapi-keberagaman-agama--0924
- https://www.kompas.id/artikel/imam-besar-al-azhar-serukan-toleransi-antarumat-beragama
Sumber foto utama: KOMPASIANA