Paru-paru Dunia yang Lagi Sakit Paru-paru

Pulau Kalimantan, yang dijuluki paru-paru dunia, diselimuti asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama tiga bulan terakhir, menyebabkan 283.270 orang di Kalimantan dan Sumatra terkena ISPA.
Tahu nggak, Indonesia itu dijuluki sebagai paru-paru dunia. Mengapa?
Menurut data World Resources Institute (WRI), Indonesia merupakan negara dengan hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, dengan luas mencapai 1.049.412 km², di bawah Brasil dan Republik Demokratik Kongo.
Secara khusus, pulau Kalimantan sendiri memiliki hamparan hutan hujan tropis tertua di dunia yang diperkirakan sudah berusia lebih dari 130 juta tahun, dengan luas 36,5–40,8 juta hektar. Hutan itu dipenuhi berbagai pepohonan yang berperan menghasilkan oksigen dan menyaring polusi udara melalui proses fotosintesis.
Selain itu, hutan Kalimantan juga menjadi habitat asli berbagai flora dan fauna, seperti anggrek hitam, bekantan, dan orangutan. Tentunya, kita sebagai manusia yang diberi mandat oleh Tuhan sebagai pengelola bumi ini memiliki tugas untuk menjaga kelestarian alam tersebut.
Namun kenyataannya, hari ini kita bisa melihat bahwa selama tiga bulan terakhir, Pulau Kalimantan diselimuti asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini diperparah oleh kemarau panjang sebagai dampak dari fenomena El Nino. Akibatnya, asap karhutla menyebar hingga ke kawasan perkotaan dan permukiman warga.
Aktivitas warga menjadi terhambat. Sekolah harus dilaksanakan secara daring, produktivitas warga menurun, layanan transportasi terganggu, hingga terjadi kecelakaan akibat terbatasnya jarak pandang karena asap. Selain itu, kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) juga melonjak naik, terutama pada kelompok rentan seperti balita, anak-anak, dan lansia.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sejak 18 Agustus hingga 13 Oktober, tercatat sebanyak 283.270 orang di Kalimantan dan Sumatra terkena ISPA akibat asap karhutla.
Sungguh mengherankan, sebuah negara yang dikenal sebagai paru-paru dunia justru membuat banyak warganya terkena penyakit paru-paru. Dampak asap karhutla ini tidak hanya dirasakan di Indonesia saja, tetapi juga telah sampai ke negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.
Kelalaian manusia disinyalir menjadi penyebab utama kejadian ini, seperti pembukaan lahan oleh oknum maupun korporasi. Pembukaan lahan dengan cara membakar dinilai lebih murah dan cepat. Sengaja atau tidak, segala bentuk kegiatan yang menyebabkan bencana besar tidak dapat diterima.
Untuk menyikapi kejadian ini, kita perlu bekerja sama agar bencana ini segera berakhir. Jika tidak bisa menjadi relawan di lapangan, kita dapat menyalurkan donasi. Jika itu juga tidak memungkinkan, kita bisa menyuarakan kejadian ini untuk mengajak masyarakat agar turut bersimpati dan tentunya berdoa.
Tuhan mengajarkan kita untuk selalu menjaga keseimbangan alam. Silahkan Kelola alam ini dengan baik. Kita boleh mengambil keuntungan dari alam, tetapi yang lebih penting adalah jangan sampai tindakan kita menimbulkan kerusakan terhadap alam.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita untuk senantiasa menjaga alam dengan berbagai cara, seperti tidak membakar hutan, meningkatkan kesadaran akan pentingnya reboisasi, tidak menebang pohon sembarangan, dan tidak membuang sampah sembarangan.
Mari kita bersama-sama menjaga alam ini agar tetap lestari. Terlebih lagi kepada para pemangku kebijakan, mohon respon kejadian ini dengan bijak. Lakukan tindakan secepat mungkin dan hindari pernyataan yang terkesan nir-empati, seolah-olah semuanya baik-baik saja, padahal kebakaran hutan dan lahan masih berlangsung.

