Film Ibuku Garapan Eddie Cahyono Raih Special Jury Award di Busan Film Festival 2026

Film Ibuku besutan Eddie Cahyono berhasil meraih Special Jury Award pada Busan International Film Festival ke-31 di Korea Selatan.

Film Ibuku besutan Eddie Cahyono berhasil meraih Special Jury Award pada Busan International Film Festival ke-31 di Korea Selatan.
BUSAN — Film drama Ibuku (My Mother) karya sutradara Eddie Cahyono berhasil meraih penghargaan bergengsi Busan Award Special Jury Prize pada ajang Busan International Film Festival (BIFF) ke-31. Pengumuman pemenang tersebut disampaikan dalam rangkaian upacara penutupan festival yang diselenggarakan di Busan Cinema Center, Korea Selatan, Kamis (15/10/2026).
Film hasil kerja sama produksi Indonesia dan Jepang ini menjadi satu dari dua delegasi Indonesia yang menembus kategori utama (Main Competition) di festival film terkemuka Asia tersebut. Karya berdurasi 96 menit ini bersaing dengan 11 film internasional lainnya. Adapun penghargaan tertinggi, Busan Award for Best Film, diraih oleh film asal Iran, Midday Meal, karya sutradara Majid Majidi. Sementara itu, film Indonesia lain yang turut berkompetisi di kategori utama, Laut Bercerita garapan Yosep Anggi Noen, belum berhasil membawa pulang piala.
Dewan juri BIFF ke-31 yang memberikan penilaian secara bulat terdiri atas deretan sineas kenamaan dunia, seperti sutradara kawakan Tiongkok Zhang Yimou, sineas Bi Gan, aktris Korea Selatan Moon Choi, sutradara Jepang Kei Ishikawa, July Jung, produser asal Vietnam Tran Thi Bich Ngoc, serta aktris Kazakhstan Samal Yeslyamova. Dewan juri mengganjar Ibuku dengan penghargaan khusus tersebut atas pencapaian sinematiknya yang dinilai kuat dalam membedah ketangguhan perempuan di tengah himpitan kemiskinan dan budaya patriarki.
Kemenangan ini menghadirkan suasana haru bagi sang sutradara, Eddie Cahyono. Saat menerima piala di atas podium, Eddie mengungkapkan bahwa produksi film ini merupakan realisasi janji yang telah ia simpan selama lebih dari satu dekade bersama aktris Christine Hakim.
“Sebelas tahun lalu, saya ingin membuat film ini terjadi karena saya dan Christine Hakim sudah berjanji membuat film ini bersama. Kita berhasil, Bu,” ujar Eddie sembari menyapa Christine Hakim yang hadir di deretan kursi tamu undangan.
Eddie juga mendedikasikan piala tersebut kepada para pekerja migran dan keluarganya di tanah air. “Saya mendedikasikan film ini kepada para pekerja imigran dari Indonesia. Saya membuat film ini untuk mereka, terutama keluarga yang ditinggalkan. Dan ibu saya di rumah, saya berharap ia melihatnya saat ini,” tuturnya.
Ibuku menandai film panjang keempat Eddie Cahyono, sineas asal Yogyakarta yang sebelumnya menyutradarai film Siti (2014). Naskah film ini berfokus pada sosok Sumiati (diperankan oleh Christine Hakim), seorang mantan penari jatilan yang hidup sendirian setelah suaminya meninggal bunuh diri akibat terjerat utang judi. Demi melunasi tanggungan tersebut, Sumiati menikahkan putri semata wayangnya, Sri (Ayushita Nugraha).
Namun, pernikahan tersebut berakhir kelam karena perlakuan kasar sang suami. Sri kemudian melarikan diri ke luar negeri untuk bekerja sebagai buruh migran di Arab Saudi. Di tanah rantau, Sri kembali menghadapi penyiksaan oleh majikannya hingga berujung pada aksi pembunuhan yang menyebabkannya divonis hukuman mati. Mendengar kabar tersebut, Sumiati menempuh segala rintangan untuk berjuang menemui sang putri di tengah ketidakpedulian birokrasi dan masyarakat sekitar.
Secara visual, film yang direkam menggunakan format seluloid 16 mm ini dikerjakan bersama sinematografer Muhammad Firdaus. Jajaran produksi diproduseri oleh Tika Bravani bersama produser asal Jepang Shin Yamaguchi, dengan dukungan produser eksekutif Aris Nugraha dan Zunan Farid. Selain Christine Hakim dan Ayushita, aktor kawakan Landung Simatupang turut memperkuat jajaran pemeran.
Hingga saat ini, pihak produser maupun distributor belum mengumumkan jadwal resmi penayangan komersial film Ibuku di bioskop-bioskop Indonesia.
Sumber foto utama: hiburan